Sejarah Berdirinya “Agama Ahmadiyah”

Published 18 April 2013 by Mualaf Center Indonesia

Tidak ragu lagi bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam. Ahmadiyah adalah agama tersendiri layaknya Syi’ah. Konon sudah lebih dari 70 tahun Ahmadi­yah bercokol di bumi Nusantara ini. Jauh sebelum itu, dan jauh sebelum adanya gembar-gembor Ahmadiyah sekarang ini, ulama-ulama dan para da’i Ahlus Sunnah telah lama berjuang menjelaskan kesesatan aqidah dan ajaran-ajaran Ahmadiyah. sekarang sudah saatnya Ahmadiyah dibubarkan… jangan ada toleransi lagi terh­adap kesesatan di negeri ini. Semoga Allah menolong para pemimpin kita untuk menyelesaikan urusan Ahmadiyah dengan sebaik-baiknya.

Mengingat bahaya besar dari kelompok ini maka kami hendak memaparkan se­bagian seluk beluk dan kesesatan-kesesatan Ahmadiyah ini sebagai peringatan dan kewaspadaan bagi kita dengan menukil dari kitab-kitab Para ulama Sunnah yang menjelaskan tentang seluk beluk mereka dengan mengambil langsung dari litera­ture-literature pendiri kelompok ini dan para pengikutnya, kitab yang paling bagus membahas tentang Ahmadiyah ini adalah tulisan Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir rahimahullah Alumnus Universitas Punjab India dan Universitas Islam Madinah yang berjudul al-Qodiyaniyyah Dirosah wo Tahlil, kitab ini menukil langsung dari 91 buku-buku Ahmadiyah dan literatur-literatur lainnya.

ASAL USUL AHMADIYAH

Ahmadiyah adalah salah satu dari kelompok Bathiniyyah[1] yang keji, karena mereka memakai po­kok-pokok pemikiran Bathiniyyah yang mengklaim bahwa nash-nash memiliki makna dhohir dan batin, yang dhohir adalah kulit, dan yang batin adalah isi, dengan maksud untuk menghilangkan makna-­makna nash dan menggantinya dengan makna-makna batin yang mencocoki program makar mereka terhadap Islam. Gerakan Ahmadiyah lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauh­kan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad de­ngan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ah­mad al-Qodiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris. Di India dan Pakistan mereka menamakan diri dengan nama Qodiyaniyyah dan di negeri-­negeri lain mereka menamakan diri mereka dengan Ahmadiyah. (Lihat Firoq Mu’ashiroh oleh Dr. Gholib ‘Awaji terbitan Daru Linah Damanhur cetakan ketiga 1418 H / 1997 M hal. 602 dan al-Qadiyani­yyah Dirosah wa Tahlil oleh Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir rahimahullah, Makalah Per­tama)

PENDIRI AHMADIYAH

Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1839-­1908 M. Dia dilahirkan di desa Qodian, di wilayah Punjab, India tahun 1839 M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung me­nyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan per­hatian dari jihad melawan penjajahan Inggris.

Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.

Banyak dari ulama-ulama India dan Pakistan yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad di an­tara mereka adalah Syaikh al-Allamah Tsana’ulloh al­-Amri Tasri rahimahullah. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh al-Al­lamah Tsana’ulloh al-Amri Tasri rahimahullah mengajaknya ber­mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.

Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendu­kungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu) Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al­-Muntazhor dan Masih al-Mau’ud. Lalu setelah itu me­ngaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabian­nya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, bule­tin serta artikel hasil karyanya. Di antara kitab terpen­ting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ah­madi, Barohin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah. (Lihat Firoq Mulashiroh hal. 605 dan 694, dan al-Qodiyaniyyah Dirosah wa Tahlil oleh Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir rahimahullah, Makalah Per­tama dan Keenam)

PEMIKIRAN DAN KEYAKINAN AHMADIYAH

1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-­Masih yang dijanjikan. (Lihat Safinatu Nuh oleh Ghulam Ahmad al-Qodiyani hal. 47)

2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menye­tempel, melakukan kesalahan dan berjima’. Maha Tinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang me­reka yakini. (Lihat al-Busyro oleh Ghulam Ahmad al-Qodiyani 2/97).

3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara, dengannya menggu­nakan bahasa Inggris (Lihat Barohin Ahmadiyah oleh Ghulam Ahmad al-Qodiyani hlm. 480)

4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepa­da Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur’an (Lihat Nawahibur Rohman oleh Ghulam Ahmad al-Qodi­yani hlm. 43)

5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan meme­rintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagai­mana tuntunan al-Qur’an (Qosim al-Qodiyani, Tabligh Risalat 4/49).

6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sam­pai man bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir (Riyuyu of Religion no­mor 35, 17/10)

7. Membolehkan khomer (miras. red), opium, ganja dan apa saja yang memabukkan. (Surat kabar al-Fadhl, 19 Juli 1929 M).

8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-­waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain. (Surat kabar al-Fadhl, 26 September 1915 M).

9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ah­mad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam Ah­mad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad. (Surat kabar al-Fadhl, 15 Juli 1924 M).

10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama al-Kitab al-Mubin, bukan al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin. (Lihat An-Nubbuwwah fil Islam oleh Muhammad Yusuf al-Qadiyani hlm. 43).

11. Mereka menyakini bahwa al-Qodian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawaroh dan Makkah al-Mukaromah; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji. (Haqiqotu ar-Rukya hlm. 46).

12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syarat yang independen pula. Seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Firoh Mu’ashiroh hlm. 632-673 dan al-Qodiyaniyyah Dirosah wa Tahlil oleh Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir, Makalah Kelima).

HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN KAFIRNYA AHMADIYAH

1. Pengakuannya sebagai nabi. (Lihat Nawahibur­rohman oleh Ghulam Ahmad al-Qadiyani hlm. 43).

2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepa­da penjajah. (Qosim al-Qadiyani, Tabligh Risalat 4/49).

3. Meniadakan berhaji ke Makkah dan mengganti­nya dengan berhaji ke Qodian (Lihat Haqiqotu ar-­Rukya hlm. 46)

4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia. (Lihat al-Busyro oleh Ghulam Ahmad al-Qodiyani 2/97)

5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan) (Lihat Tiryaqul Qulub oleh Gulam Ahmad al-Qodiyani hlm. 155)

6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan. (Safinatu Nuh hlm 47 oleh Ghulam Ahmad al-Qodiyani)

7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu bagi siapa saja yang menginginkannya. (Surat kabar al­Fadhl, 26 September 1915 M)

PENYEBARAN DAN AKTIVITAS AHMADIYAH

1. Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun se­buah markas di setiap negara di mana mereka be­rada.

2. Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5.000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktivitas me­reka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.

3. Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang me­manjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di Peru­sahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkan­lah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.

4. Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manu­sia dengan segala cara, khususnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dok­ter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV de­ngan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penga­nut kelompok Ahmadiyah (Lihat Firoq Mu’ashiroh hlm. 687-693)

PEMIMPIN-PEMIMPIN AHMADIYAH

1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad bernama Nuruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiyah ke­padanya dan diikuti para pendukungnya. Di an­tara tulisannya berjudul “Fashl al-Khithab”.

2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Lahore. Keduanya adalah corong dan ahli debat kelompok Ahmadiyah. Muhammad Ali telah menulis ter­jemah al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain. Haqiqot al-lkhtilaf an-Nubuwah fil-Islam dan ad-Din al-Islami. Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul Matsal al-A’la fil Anbiya serta kitab-­kitab lain. Jamaah Ahmadiyah Lahore ini berpan­dangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujaddid. Tetapi yang berpandangan se­perti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.

3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Di antara tulisannya berjudul Khotam an-Nobiyyin.

4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tu­lisannya berjudul Anwar al-Khilafah, Tuhfat al-Mu­luk, Haqiqot an-Nubuwwah.

5. Dzhafrilah Khan, menteri luar negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelom­pok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadopsi dari ayat al-Qur’an: “Dan Kami melindungi mereka di suatu Rob­wah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (QS. al-Mukminun [23]: 50) (Lihat Firoq Mu’ashiroh hlm. 696-703 dan al-­Qodiyaniyyah Dirasah wa Tahlil oleh Syaikh Ihsan Ilahi Dhohir rahimahullah, Makalah Kesembilan)

FATWA-FATWA ULAMA TENTANG AHMADIYAH

1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah :

Setiap orang yang menelaah contoh-contoh aqi­dah Ghulam Ahmad yang disebutkan oleh penanya yang ada 20 contoh yang dijelaskan di dalam perta­nyaan yang tersebut di dalam majalah al-Hajj, setiap orang yang menelaah contoh-contoh aqidah ini dari ahli ilmu dan bashiroh maka akan mengetahuinya dengan ilmu qoth’i yang tidak tercampur sedikit pun keraguan bahwa penganutnya, yang meyakininya, dan yang mendakwahkannya adalah kafir kufur akbar murtad dari Islam yang wajib diminta bertaubat.

Jika dia telah bertaubat dengan taubat yang jelas dan mengatakan dirinya telah berdusta dengan jelas yang disebarkan di Surat kabar-Surat kabar lokal sebagaimana telah disebarkan di dalamnya kebatilan-­kebatilan aqidahnya (maka diterima taubatnya), jika tidak maka wajib atas waliyul amr dari kaum mus­limin untuk membunuhnya…” (Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Abdul Aziz bin Baz, jilid 3 di bawah judul Hukmu Syari’at fi Ghulam Ahmad)

2. Syaikh al-Allamah Sholih bin Fauzan al­-Fauzan hafidhahullah :

Tidak henti-hentinya para pendusta pengaku nabi muncul di setiap zaman, hingga muncul sejak beberapa tahun yang lalu seorang laki-laki di Pakis­tan yang bernama Ghulam Ahmad al-Qodiyani yang mengklaim sebagai nabi dan diikuti oleh suatu kaum, dan jadilah sekarang ini dia memiliki pengikut yang bernama al-Qodiyaniyyah, mereka ini telah dikafir­kan oleh kaum muslimin dan mereka lempar -Walil­lahil Hamd -…

Orang yang mengklaim kenabian sesudah Mu­hammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia adalah kafir, karena telah mendustakan Allah, karena Allah Ta’ala berfirman :

Dan tidaklah Muhammad bapak seorang dari laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup para nabi. (al-Ahzab [33]: 40), mendustakan Rasu­lullah Shallallahu ‘alihi wa sallam yang telah bersabda :

Aku adalah penutup para nabi. (Muttafaqun alaih, Shahih Bukhari : 3535 dan Shahih Muslim: 2286), dan mendustakan ijma’ kaum muslimin, karena kaum muslimin sepakat bahwa tidak ada nabi sesudah Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam.

Jika ada yang bertanya : “Bukankah al-Masih Isa bin Maryam ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman sebagaimana telah mutawatir hadits-hadits tentang itu!?” Maka kami katakan : “Ya, dia akan turun di akhir zaman, akan tetapi tidaklah turun membawa syariat baru, sesungguhnya dia turun beramal dengan syari’at Mu­hammad Shallallahu ‘alihi wa sallam, maka dia termasuk salah satu mujaddid dan seorang da’i kepada kebaikan, berhukum dengan syari’at Islam, mengikuti Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam, maka turunnya Isa tidaklah menyelisihi sabda Rasu­lullah Shallallahu ‘alihi wa sallam “Aku adalah penutup para nabi”, dan firman Allah Ta’ala : “Dan Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam adalah penutup para nabi.” karena dia tidaklah turun dengan syari’at yang baru, dan tidak turun sebagai seorang nabi yang diutus ke­pada manusia, sesungguhnya dia turun dengan berhukum dengan syari’at Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam, dan mengikuti Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam ” (I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabi Tauhid terbitan Muassasah Risalah, cetakan ketiga 1432 H / 2002 M h1m. 339)

3. Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah :

Ketahuilah bahwa termasuk dari mereka para pendusta yang mengaku nabi adalah Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani al-Hindi, yang mengklaim pada masa penjajahan Inggris di India bahwa dia adalah Imam Mandi yang ditunggu, kemudian dia mengklaim bahwa dia adalah Isa ‘alaihis salam kemudian terakhir dia mengaku sebagai nabi, dia diikuti oleh banyak orang yang tidak memiliki ilmu tentang Kitab dan Sunnah, dan aku telah bertemu dengan sebagian propagandis mereka dari orang-orang India dan Suria, dan terjadi perdebatan-perdebatan antara aku dengan mereka, yang salah satu perdebatan tersebut direkam dalam tulisan, aku ajak mereka di dalam tulisan tersebut agar mereka mau berdebat tentang keyakinan me­reka bahwa akan datang nabi yang banyak sepening­gal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam di antara nabi-nabi tersebut adalah nabi mereka Mirza Ghulam Ahmad al-Qodi­yani. Pada awalnya mereka berusaha berkelit di awal jawaban mereka, mereka hendak memalingkan per­hatian dari perdebatan tentang keyakinan mereka tersebut, tetapi aku enggan dan bersikeras atas mem­permasalahkan keyakinan mereka tersebut, maka mereka mengalami kekalahan yang telak, dan para hadirin mengetahui bahwa mereka di atas kebatilan. Mereka memiliki banyak aqidah-aqidah lain yang ba­til, mereka menyelisihi ijma’ umat Islam secara yakin, di antaranya mereka menolak kebangkitan jasad ma­nusia, dan bahwasanya kenikmatan dan adzab dira­sakan oleh ruh saja bukan oleh jasad, dan bahwasanya adzab bagi orang kafir suatu saat akan berhenti. Me­reka mengingkari wujud jin dan menyangka bahwa jin-jin yang disebut di dalam al-Qur’an adalah seke­lompok manusia! Mereka menta’wil (menyeleweng­kan) nash-nash al-Qur’an yang menyelisihi aqidah­-aqidah mereka dengan takwil-takwil yang mungkar seperti model-model takwil Bathiniyyah dan Qo­romithoh. Karena itulah maka Inggris mendukung mereka dan membantu Mirza Ghulam Ahmad untuk melawan kaum muslimin, dan Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengatakan : “Haram atas kaum muslimin memerangi Inggris!” dan masih banyak lagi kedusta­an-kedustaan dan kesesatan-kesesatannya. Dan telah ditulis kitab-kitab yang banyak tentang bantahan ke­padanya, dan penjelasan tentang keluarnya dia dari jama’ah kaum muslimin, maka hendaknya diruju’ ke­pada kitab-kitab tersebut agar diketahui tentang jati diri Ahmadiyah ini.” (Silsilah Shohihah 4/250)

4. Syaikh al-Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah :

Kemudian aku melihat bahwa kelompok-kelom­pok Bathiniyyah, yang didirikan oleh penjajah Rusia, Inggris, dan Yahudi Internasional, yang dinisbahkan secara dholim kepada Islam, untuk menghancurkan­nya dan merusaknya, di antara kelompok-kelompok tersebut adalah : al-Babiyah, nisbah kepada Mirza Ali Muhammad asy-Syairozi, yang bergelar: Babul Mahdi, lahir tahun 1235 dan mati tahun 1265. al-Bahaiyah, nisbah kepada al-Baha’ Husain bin Mirza, yang lahir di Iran tahun 1233 dan mati tahun 1309. Dan Al-­Qodiyaniyyah, nisbah kepada Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani yang mati tahun 1325.

Kelompok-kelompok Bathiniyyah ini telah dihukumi kafir dengan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, dan telah muncul keputusan-keputusan syar’i Negeri-negeri Islam atas kekufurannya.” (al-lbthal Linadhariyyatil Kholath Baina Dinil Islam Wa Ghoirihi Minal Adyan 1/112)

5. Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia :

Telah datang suatu pertanyaan ke Lajnah Daimah yang berbunyi : “Apa hukum agama baru dan pengikutnya; yaitu yang disebut Ahmadiyah…?”

Jawaban: “Telah muncul keputusan dari Peme­rintah Pakistan bahwa kelompok Ahmadiyah ini telah keluar dari Islam, demikian juga telah muncul keputusan dari Robithoh Alam Islami Makkah Mu­karomah bahwa Ahmadiyah telah keluar dari Islam, sebagaimana di dalam Muktamar Organisasi-orga­nisasi Islam yang diadakan di Robithoh tahun 1394 H, dan telah disebarluaskan sebuah risalah yang menjelaskan pokok-pokok kelompok Ahmadiyah ini, bagaimana perkembangannya, dan yang lainnya yang menjelaskan hakikatnya.

Kesimpulannya bahwa Ahmadiyah adalah sebuah kelompok yang mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad al-Hindi adalah seorang nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak sah keislaman setiap orang hingga beriman kepada kenabian Mirza Ghulam Ahmad, padahal dia dilahirkan pada abad ke­ 13, Allah Ta’ala telah mengabarkan di dalam al-Qur’anul Karim bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam, adalah penu­tup para nabi, dan para ulama telah sepakat atas hal itu. Barang siapa yang mengklaim bahwa ada nabi yang datang sesudah beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam yang mendapat wahyu dari Allah Ta’ala maka dia telah kafir karena dia telah mendustakan Kitabullah, mendustakan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam, yang menunjukkan bahwa beliau adalah penutup para nabi, dan menye­lisihi ijma’ umat Islam,” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1615)

Kemudian juga tertera di dalam Fatwa Lajnah Daimah no. 4317: “Kenabian telah diakhiri oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam maka tidak ada nabi yang datang sesudahnya, berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah, barangsiapa yang mengklaim kenabian sesu­dah itu maka dia adalah seorang pendusta, di antara para pendusta tersebut adalah Ghulam Ahmad al­-Qodiyani, maka klaim kenabian bagi dirinya adalah kedustaan, dan apa yang disangka oleh Ahmadiyah Qodiyani tentang kenabiannya maka adalah sangkaan yang dusta. Dan telah keluar keputusan dari Majlis Hai’ah Kibar Ulama Saudi Arabia yang menggolong­kan bahwa Ahmadiyah adalah kelompok yang kafir dengan sebab hal itu.”

6. Fatwa Majma’ Fiqih OKI :

Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang dibawanya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terha­dap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qoth’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Is­lam, yaitu bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam adalah nabi dan rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorang pun setelah itu. Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pengikut­nya menjadi murtad, keluar dari agama Islam. Aliran Qodiyaniyah dan Aliran Lahoriyyah adalah sama, meskipun ajaran yang disebut terakhir (Lahoriyyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seba­gai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Mu­hammad Shallallahu ‘alihi wa sallam (Keputusan Majma’ Fiqih Islami Or­ganisasi Konferensi Islam (OKI) nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Robi’uts Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1805 M)

KUTIPAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TERHADAP AHMADIYAH

1. Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam MUNAS II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikuti­nya adalah murtad (keluar dari Islam).

2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Ah­madiyah supaya segera kembali kepada ajaran Is­lam yang haq, yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penye­baran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua te­mpat kegiatannya.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal: 21 Jumadil Akhir 1426 H / 28 Juli 2005 M (Fatwa MUNAS VII Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 hlm. 97)

Berdasarkan bukti-bukti ajaran Ahmadiyah sebagaimana tertuang dalam berbagai literature karya Mirza Ghulam Ahmad dan para tokoh pengikutnya di atas serta setelah mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan hadits serta ijma Ulama, maka MUI menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah, baik Qadiyani maupun Lahore, sebagai keluar dari Islam, sesat dan menye­satkan. (Dari Penjelasan Fatwa Tentang Ahmadiyah dalam Fatwa MUNAS VII Majelis Ulama Indonesia ta­hun 2005 hlm. 151)

SIKAP NEGERI-NEGERI ISLAM TERHADAP AHMADIYAH

Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan kepu­tusan bahwa Ahmadiyah telah keluar dari Islam dan digolongkan Minoritas Non Muslim sebagaimana di dalam Fatwa Lajnah Daimah no. 1615 di atas.

Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di se­luruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam. (Sumber: Fatwa MUNAS VII Majelis Ulama Indonesia tahun 2005 hlm 153)

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluar­kan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah. (Sumber: Buletin LPPI Jakarta)

PENUTUP

Inilah sedikit yang bisa kami paparkan tentang se­luk beluk dan kesesatan-kesesatan Ahmadiyah, yang kesimpulannya bahwa kelompok Ahmadiyah baik alir­an Qodiyaniyyah maupun Lahore adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqi­dah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktivitas mereka, setelah para ula­ma Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kafir.

Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadikan kewaspadaan kepada kita semua tentang ba­haya kelompok sesat ini, dan sekaligus menyadarkan saudara-saudara kami yang hingga saat ini masih ter­belenggu di dalam jaringan kelompok sesat ini serta membuka mata mereka tentang jati diri sebuah kelompok yang telah membutakan mata mereka dari jalan yang lurus. Semoga Allah selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya para nabi, para shiddiqin, syuhada’, dan sholihin. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: