salafy wahaby

All posts tagged salafy wahaby

Waspadalah.. Imam Syafi’i Dedengkot WAHABY

Published 7 Mei 2013 by Mualaf Center Indonesia

Seakan-akan kita sudah jenuh akan stempel ‘Wahabiy’. Stempel ini terlalu murah diketok pada objek yang menyelisihi pemahaman, kebiasaan, dan amalan kelompok/sekte tertentu. Tempo hari, acara Khazanah Trans7 dituding terkontaminsasi paham Wahabi gara-gara membahas masalah syirik, sehingga mereka perlu berepot-repot protes ke KPI. Gak mau tahlilan, dibilang Wahabi. Gak mau maulidan, dibilang Wahabi. Gak mau haulan kematian, dibilang Wahabi. Gak mau dzikir berjama’ah, dibilang Wahabi. Gak mau pake jimat dan ilmu kebal hasil rekayasa pak kiyai, dibilang Wahabi. Gak mau minum air sisa pak Habib, dibilang Wahabi. Gak mau mbikin bangunan di makam, dibilang Wahabi. Gak mau tawasulan via mayat di dalam kubur, dibilang Wahabi. Gak mau banyak-banyak pake metode ta’wil (baca : tahrif) ayat sifat, dibilang Wahabi. Miara jenggot, dibilang Wahabi. Pake celana ngatung, dibilang Wahabi. Pake cadar, dibilang Wahabi(yyah). Tarawihan 11/13 raka’at, dibilang Wahabi. Mbahas bid’ah dan kesyirikan, dibilang Wahabi. Dan lainnya, sangat banyak. Lantas, apa yang tersisa agar tidak dibilang Wahabi ?. Barangkali jawabannya adalah : jadi preman atau masuk ke dalam kelompok/sekte yang obral stempel Wahabi tadi.
Standar stempel Wahabi menjadi tak jelas, tak ada batasannya. Banyak ulama mu’tabar menjadi berpemahaman Wahabi berdasarkan indikator ‘pen-stempel-an’ Wahabi tersebut di atas. Bahkan mereka yang hidup jauh sebelum dilahirkannya ‘pencetus’ gerakan Wahabi : Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab At-Tamiimiy rahimahullah. Diantara ulama tersebut adalah Al-Imam Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullah, mujaddid abad kedua hijriyah. Tak percaya ?. Berikut buktinya :

Baca selengkapnya →

Mualaf Wahaby

Published 24 April 2013 by Mualaf Center Indonesia

Pada tahun 1998 setelah saya memeluk agama islam, pastinya orang-orang mantan agama yang dulu saya anut, membenci saya. Tapi bagi saya hinaan, celaan, makian dari orang2 yang dulu pernah dekat dengan saya, ditanggapi dengan senyuman, dan saya tetap berpegang teguh kepada keyakinan saya yang baru, dan ingin menjadi muslim yang kaffah.

Menghadapi fitnah dari mantan agama saya, tentunya saya mesti memperdalam Al Qur’an dan Sunnah, agar saya bisa membantah mereka hujah berdasarkan dalil yang shahih. Dan tentunya berdasasarkan pemahaman Para Sahabat Rasulullah, karena mereka ada generasi terbaik dalam islam.

Ketika saya memperdalam Al Qur’an dan Hadist, untuk bekal ilmu berdakwah kepada orang-orang Nasrani, justru kendala dari umat islam sendiri, malah sering saya dihina, dicaci-maki, dilabeli gelar, seperti teroris, wahaby, sawah, salahfikir, dsb,,,

OKELAH KALAU BEGITU.. !!!

Baca selengkapnya →